Baca Juga
Wisata
Budaya di Sulawesi Incaran Travelers
Wisata
Budaya di Sulawesi Incaran Travelers – Ingin
berwisata sambil menyaksikan pertunjukan budaya dan kekayaan adat Indonesia?
Sulawesi adalah pulau yang tepat sebagai destinasi yang harus kamu kunjungi.
Ada beberapa acara adat yang menjadi tradisi di pulau ini. Menyaksikan dan
datang langsung ke tempat-tempat acara tersebut dilaksanakan dapat memperkaya
pengalaman wisatamu. Check this out!
1. Festival
Saronde
Festival
Saronde diadakan di Pulau Saronde, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi
Gorontalo. Festival ini diadakan pada setiap bulan Juli. Di Festival Saronde
ada banyak kegiatan yang bisa disaksikan yaitu lomba lari pantai, lomba perahu
ketinting, lomba perahu hias, lomba memancing, lomba voli pantai, kemah wisata
remaja, pemilihan Beach Boys,
pemilihan Puteri Saronde, dan pertunjukan hiburan lainnya.
2. Lomba
Perahu Sandeq
Sandeq
adalah perahu layar bercadik yang biasanya dimiliki oleh nelayan suku Mandar
atau digunakan sebagai alat transportasi antar pulau. Lomba Perahu Sandeq
biasanya diselenggarakan menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan
Republik Indonesia, di awal bulan Agustus setiap tahunnya. Yang menarik pada
lomba yang mengandalkan kecepatan perahu dan ketangguhan pelaut ini, rutenya sangat jauh yaitu 300 mil. Tak heran
jika waktu tempuhnya bisa mencapai 10 hari!
Titik start lomba dari Pelabuhan Mamuju,
Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat hingga garis finish di Pantai Losari, Kota Makasar, Sulawesi Selatan. Para
peserta tentu harus memiliki persiapan yang matang agar dapat menaklukan lautan
lepas di sepanjang rute tersebut. Ada enam titik persinggahan selama perlombaan
yaitu di Majene, Polewali, Ujung Lero, Parepare, Barru, dan Pantai Losari.
3. Pesta
Adat Sayyang Pattudu
Sayyang
Pattudu diselenggarakan untuk merayakan khatamnya anak-anak Suku Mandar untuk
pertama kali dalam membaca Al-Quran. Pesta adat ini diadakan di Desa Karama,
Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada setiap bulan Maulid atau Rabiul
Awwal (bulan Hijriyah). Sayyang Pattudu berarti ‘kuda menari’ sehingga bentuk
acaranya pun menampilkan atraksi kuda yang diberi hiasan dan dinaiki oleh
anak-anak yang baru saja khatam Al-Quran. Acara syukuran ini berupa arak-arakan
keliling kampung diiringi oleh Parrawana (para
penabuh rebana).
4. Tarian
Kabasaran
Tarian adat
Minahasa ini juga disebut Tarian Kawasaran. Pada zaman dahulu, tarian ini
dibawakan oleh para prajurit perang. Sehingga aksesoris dalam tarian ini berupa
pedang dan tombak tajam. Sesuai dengan historinya tarian berkelompok ini
dibawakan dengan mata melotot, wajah garang, dan busana merah. Diiringi musik
dari tambur atau gong kecil, tarian ini memiliki gerak dasar berupa sembilan
jurus pedang. Benar-benar menggambarkan suasana perang prajurit pada zaman
dahulu.
Pada zaman
sekarang, tarian ini ditampilkan untuk acara penyambutan tamu daerah atau
kenegaraan serta pada festival kebudayaan di Sulawesi Utara. Sehingga untuk
menyaksikan tarian ini, kamu bisa menghadiri festival-festival yang diadakan di
Tanah Minahasa ini. Jika ingin menyaksikan tarian ini tapi waktu kunjungan
tidak sesuai dengan waktu festival diadakan, kamu bisa mengunjungi Sanggar
Tumou Tou Lestari. Di sanggar ini, Tarian Kabasaran dimainkan jika ada
wisatawan yang datang. Sanggar ini terletak di
Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
5. Tari
Mabissu
Tari Mabissu
berasal dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Penari
Mabissu disebut Bissu yang berarti ‘tidak berdarah’, karena konon mereka kebal
terhadap senjata tajam. Oleh karena itu, pada setiap ritual mereka
mempertontonkan kesaktian yang tahan terhadap tusukan keris, parang, atau timah
panas. Tari Mabissu dimainkan oleh 6 orang dengan pakaian berwarna keemasan dan
badik di pinggang. Diiringi tabuhan gendang, mereka melafalkan mantra mistis
dalam bahasa To Rilangi (bahasa kuno suku Bugis).
Gerakan
dalam tari Mabissu adalah mengelilingi benda keramat dan diyakini sebagai
tempat ruh leluhur beristirahat yang disebut Arajangnge. Tarian ini dilengkapi
dengan sesaji berupa kue-kue tradisional Bugis, buah-buahan, ayam, serta kepa
kerbau dan sapi yang diletakkan di depan Arajangnge. Pagelaran tari ini secara
lepas dapat kamu saksikan di Desa
Assaurajang, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
6. Upacara
Posuo
Upacara
Posuo adalah acara adat dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Tradisi ini
merupakan peninggalan dari zaman Kesultanan Buton. Sekilas, adat Posuo ini
mirip dengan tradisi pingitan yang ada di Jawa. Upacara Posuo dilakukan khusus
untuk para gadis yang akan menikah, sehingga setelah mengikuti upacara para
perempuan tersebut beralih status dari remaja menjadi dewasa. Teknis upacara
ini dilakukan dalam ruangan tertutup yang disebut suo selama delapan hari delapan malam. Selama rentang waktu
tersebut para gadis tidak diperbolehkan berinteraksi dengan lingkungannya,
kecuali dengan bhisa yaitu pemimpin
upacara Posuo. Selama di dalam suo para
gadis remaja tersebut akan diberi wejangan mengenai kehidupan orang dewasa dan
bekal ilmu dalam mengarungi rumah tangga.
Ketika sesi
upacara telah selesai, maka para gadis tersebut dimandikan dan didandani
menggunakan pakaian adat untuk orang dewasa. Upacara kemudian dilanjutkan
dengan peresmian oleh istri Moji (pejabat Keraton Buton). Nah, pada saat
peresmian inilah para pengunjung dapat menyaksikan acara ini secara langsung.
Acara peresmian diiringi oleh tabuhan gendang dan alat musik tradisional
lainnya.
7. Kapogiraha
Adhara
Aduan kuda
tidak hanya ada di Madura saja, tapi juga ada di Sulawesi Tenggara, tepatnya di
Kabupaten Muna. Dalam bahasa suku Muna, aduan kuda ini disebut Kapogiraha
Adhara yang berarti ‘adu kekuatan kuda’. Atraksi adu kuda ini merupakan warisan
dari Kerajaan Muna ratusan tahun silam. Atraksi ini memiliki arti filosofis
yaitu mempertahankan harga diri dengan sekuat tenaga. Pada masa sekarang,
Kapogiraha Adhara diadakan ketika perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, Idul
Fitri, Idul Adha, serta ketika ada tamu dari luar daerah. Aduan kuda ini
biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka ibu kota Kecamatan Lawa, Kabupaten
Muna. Dalam adu kuda ini yang diadu adalah dua ekor kuda jantan dewasa, kedua
kuda ini beradu tendangan di udara hingga salah satu rebah di tanah.
Itulah beberapa
pertunjukan wisata budaya di Sulawesi incaran
travelers. Betapa bangsa Indonesia harus bangga karena
memiliki kekayaan adat dan budaya yang sangat tinggi seperti di atas. Jadi,
jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan-pertunjukan tersebut
ketika pelesir di Pulau Celebes, ya.
0 comments:
Post a Comment