Tuesday, 29 May 2018

Wisata Budaya di Sulawesi Incaran Travelers

Baca Juga


Wisata Budaya di Sulawesi Incaran Travelers

Wisata Budaya di Sulawesi Incaran TravelersIngin berwisata sambil menyaksikan pertunjukan budaya dan kekayaan adat Indonesia? Sulawesi adalah pulau yang tepat sebagai destinasi yang harus kamu kunjungi. Ada beberapa acara adat yang menjadi tradisi di pulau ini. Menyaksikan dan datang langsung ke tempat-tempat acara tersebut dilaksanakan dapat memperkaya pengalaman wisatamu. Check this out!

1.      Festival Saronde
Festival Saronde diadakan di Pulau Saronde, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Festival ini diadakan pada setiap bulan Juli. Di Festival Saronde ada banyak kegiatan yang bisa disaksikan yaitu lomba lari pantai, lomba perahu ketinting, lomba perahu hias, lomba memancing, lomba voli pantai, kemah wisata remaja, pemilihan Beach Boys, pemilihan Puteri Saronde, dan pertunjukan hiburan lainnya.

2.      Lomba Perahu Sandeq
Sandeq adalah perahu layar bercadik yang biasanya dimiliki oleh nelayan suku Mandar atau digunakan sebagai alat transportasi antar pulau. Lomba Perahu Sandeq biasanya diselenggarakan menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, di awal bulan Agustus setiap tahunnya. Yang menarik pada lomba yang mengandalkan kecepatan perahu dan ketangguhan pelaut ini,  rutenya sangat jauh yaitu 300 mil. Tak heran jika waktu tempuhnya bisa mencapai 10 hari!


Titik start lomba dari Pelabuhan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat hingga garis finish di Pantai Losari, Kota Makasar, Sulawesi Selatan. Para peserta tentu harus memiliki persiapan yang matang agar dapat menaklukan lautan lepas di sepanjang rute tersebut. Ada enam titik persinggahan selama perlombaan yaitu di Majene, Polewali, Ujung Lero, Parepare, Barru, dan Pantai Losari.

3.      Pesta Adat Sayyang Pattudu
Sayyang Pattudu diselenggarakan untuk merayakan khatamnya anak-anak Suku Mandar untuk pertama kali dalam membaca Al-Quran. Pesta adat ini diadakan di Desa Karama, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada setiap bulan Maulid atau Rabiul Awwal (bulan Hijriyah). Sayyang Pattudu berarti ‘kuda menari’ sehingga bentuk acaranya pun menampilkan atraksi kuda yang diberi hiasan dan dinaiki oleh anak-anak yang baru saja khatam Al-Quran. Acara syukuran ini berupa arak-arakan keliling kampung diiringi oleh Parrawana (para penabuh rebana).

4.      Tarian Kabasaran
Tarian adat Minahasa ini juga disebut Tarian Kawasaran. Pada zaman dahulu, tarian ini dibawakan oleh para prajurit perang. Sehingga aksesoris dalam tarian ini berupa pedang dan tombak tajam. Sesuai dengan historinya tarian berkelompok ini dibawakan dengan mata melotot, wajah garang, dan busana merah. Diiringi musik dari tambur atau gong kecil, tarian ini memiliki gerak dasar berupa sembilan jurus pedang. Benar-benar menggambarkan suasana perang prajurit pada zaman dahulu.

Pada zaman sekarang, tarian ini ditampilkan untuk acara penyambutan tamu daerah atau kenegaraan serta pada festival kebudayaan di Sulawesi Utara. Sehingga untuk menyaksikan tarian ini, kamu bisa menghadiri festival-festival yang diadakan di Tanah Minahasa ini. Jika ingin menyaksikan tarian ini tapi waktu kunjungan tidak sesuai dengan waktu festival diadakan, kamu bisa mengunjungi Sanggar Tumou Tou Lestari. Di sanggar ini, Tarian Kabasaran dimainkan jika ada wisatawan yang datang. Sanggar ini terletak di  Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

5.      Tari Mabissu
Tari Mabissu berasal dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Penari Mabissu disebut Bissu yang berarti ‘tidak berdarah’, karena konon mereka kebal terhadap senjata tajam. Oleh karena itu, pada setiap ritual mereka mempertontonkan kesaktian yang tahan terhadap tusukan keris, parang, atau timah panas. Tari Mabissu dimainkan oleh 6 orang dengan pakaian berwarna keemasan dan badik di pinggang. Diiringi tabuhan gendang, mereka melafalkan mantra mistis dalam bahasa To Rilangi (bahasa kuno suku Bugis).

Gerakan dalam tari Mabissu adalah mengelilingi benda keramat dan diyakini sebagai tempat ruh leluhur beristirahat yang disebut Arajangnge. Tarian ini dilengkapi dengan sesaji berupa kue-kue tradisional Bugis, buah-buahan, ayam, serta kepa kerbau dan sapi yang diletakkan di depan Arajangnge. Pagelaran tari ini secara lepas dapat kamu saksikan di Desa  Assaurajang, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

6.      Upacara Posuo
Upacara Posuo adalah acara adat dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Tradisi ini merupakan peninggalan dari zaman Kesultanan Buton. Sekilas, adat Posuo ini mirip dengan tradisi pingitan yang ada di Jawa. Upacara Posuo dilakukan khusus untuk para gadis yang akan menikah, sehingga setelah mengikuti upacara para perempuan tersebut beralih status dari remaja menjadi dewasa. Teknis upacara ini dilakukan dalam ruangan tertutup yang disebut suo selama delapan hari delapan malam. Selama rentang waktu tersebut para gadis tidak diperbolehkan berinteraksi dengan lingkungannya, kecuali dengan bhisa yaitu pemimpin upacara Posuo. Selama di dalam suo para gadis remaja tersebut akan diberi wejangan mengenai kehidupan orang dewasa dan bekal ilmu dalam mengarungi rumah tangga.

Ketika sesi upacara telah selesai, maka para gadis tersebut dimandikan dan didandani menggunakan pakaian adat untuk orang dewasa. Upacara kemudian dilanjutkan dengan peresmian oleh istri Moji (pejabat Keraton Buton). Nah, pada saat peresmian inilah para pengunjung dapat menyaksikan acara ini secara langsung. Acara peresmian diiringi oleh tabuhan gendang dan alat musik tradisional lainnya.

7.      Kapogiraha Adhara
Aduan kuda tidak hanya ada di Madura saja, tapi juga ada di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Muna. Dalam bahasa suku Muna, aduan kuda ini disebut Kapogiraha Adhara yang berarti ‘adu kekuatan kuda’. Atraksi adu kuda ini merupakan warisan dari Kerajaan Muna ratusan tahun silam. Atraksi ini memiliki arti filosofis yaitu mempertahankan harga diri dengan sekuat tenaga. Pada masa sekarang, Kapogiraha Adhara diadakan ketika perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, Idul Fitri, Idul Adha, serta ketika ada tamu dari luar daerah. Aduan kuda ini biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka ibu kota Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna. Dalam adu kuda ini yang diadu adalah dua ekor kuda jantan dewasa, kedua kuda ini beradu tendangan di udara hingga salah satu rebah di tanah.

Itulah beberapa pertunjukan wisata budaya di Sulawesi incaran travelers. Betapa bangsa Indonesia harus bangga karena memiliki kekayaan adat dan budaya yang sangat tinggi seperti di atas. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan-pertunjukan tersebut ketika pelesir di Pulau Celebes, ya.

Wisata Budaya di Sulawesi Incaran Travelers Rating: 4.5 Diposkan Oleh: hari prasetyo

0 comments:

Post a Comment